Senin, 14 September 2020

KPI IAI BBC Masih Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru Hinga Akhir September

Program studi (Prodi) Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Kampus Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon, masih membuka pendaftaran mahasiswa baru untuk gelombang 3 tahap 2 hingga akhir September 2020. Hal ini disampaikan Maman Abdurahman M I Kom, Ketua Prodi KPI IAI Bunga Bangsa Cirebon, melalui surel, Senin, (13/9). Menurutnya, kelas yang tersedia untuk Prodi KPI di Kampus IAI Bunga Bangsa Cirebon terdiri dari kelas regular, kelas karyawan dan kelas khusus penyuluh agama honorer (PAH). Kemudian, untuk kompetensi atau konsentrasi jurusan, prodi ini memiliki fokus pada ilmu jurnalistik, public relations, broadcasting, sinematografi dan ilmu dakwah untuk kelas khusus PAH. “Calon mahasiswa baru yang akan mendaftar, tidak perlu takut kalau tidak bisa mengikuti kelas regular karna ada beberapa pilihan kelas yang tersedia. Selain itu mahasiswa baru juga bisa memilih konsentrasi jurusan yang ingin dicapainya pada prodi ini,” jelas Maman. Lanjutnya, kata Maman, sistem perkuliahan di Prodi KPI mengikuti mekanisme perkuliahan yang ditetapkan pihak kampus, yaitu pembelajaran online atau sistem blendid learning (perkuliahan online dan offline). Dengan sistem perkuliahan blendid learning, mahasiswa memiliki waktu yang fleksibel untuk kuliah sambil kerja. Selain mempunyai kelebihan waktu perkuliahan yang fleksibel, biaya kuliah di Prodi KPI juga relatif terjangkau apalagi terdapat berbagai tawaran beasiswa bagi mahasiswa. “Ada beasiswa Tahfidz, Bidikmisi, Kemenag RI, Jabar Future, Gubernur, Prestasi dan beasiswa BI,” ujar Maman, yang juga Founder Cirebon Bribin itu. Lebih lanjut, pendaftaran kuliah ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu, pertama calon mahasiswa bisa mendaftar dan registrasi secara daring melalui laman http://pmb.bungabangsacirebon.ac.id/iaibbc/pmb.zul. Kedua, calon mahasiswa bisa datang langsung ke bagian informasi Kampus IAI Bunga Bangsa Cirebon di Jalan Widarasari III Tuparev Kedawung Cirebon. Selanjutnya, calon mahasiswa baru diharuskan membayar biaya pendaftaran melalui sistem multi-payment di bank yang sudah ditunjuk yaitu Bank BNI. NAMA : AHMAD YUSUF NIM : 2017.6.2.1.00052 PRODI : KPI A SEMESTER VII TAHUN 2020 MATA KULIAH : TEKNIK EDITING DOSEN PENGAMPU : MAMAN ABDURAHMAN, M.I KOM INSTITUT AGAMA ISLAM BUNGA BANGSA CIREBON

Senin, 25 Februari 2019

Mendukung

JIKA MENDUKUNG JOKOWI

Apakah dengan mendukung Jokowi - Ma’ruf Amin berarti saya berlawanan dengan umat Islam? Tentu tidak. Mungkin berlawanan dengan pendukung paslon lain saja. 😊

Apakah dengan mendukung Jokowi Ma’ruf Amin berarti kita tidak patuh pada ulama? Tentu tidak. Mungkin tidak patuh pada tokoh tertentu yang tidak suka kepada atau tidak mendukung Pak Jokowi saja. 😊

Apakah dengan mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin berarti Anda mendukung LGBT atau Penistaan Agama? Tentu tidak. Mungkin itu cara pihak tertentu saja yang membuat pilpres ini jadi seolah hitam-putih. Benar-salah. Surga-Neraka. 😊

Apakah dengan mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin kita otomatis menjadi dungu dan tidak sehat akalnya? Tentu tidak. Kalau ada yang bilang begitu, cukup tersenyum saja. Senyum kepada orang yang memakimu adalah tanda akal yang bijaksana. 😊

Apakah dengan mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin berarti kita zalim, tidak beriman, tidak taat pada al-Quran atau sunnah, bahkan kafir dan terancam masuk neraka? Tentu tidak. Tenang saja, sejauh ini masih tugas malaikat menentukan dan mencatat mana yang baik dan mana yang buruk, kan? Selama masih dihakimi manusia, senyumin aja, doakan semoga yang bilang demikian mendapatkan limpahan rahmat dan keberkahan. Itu cukup. 😊

Apakah dengan mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin kita otomatis hina dan tak layak menjadi manusia? Tentu tidak. Tapi tak apa, kita belajar saja bagaimana menjadi manusia yang baik dan ummat yang baik. Apa kata orang, tak berpengaruh pada kualitas diri kita yang sebenarnya. 😊

Apakah dengan mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin berarti kita dibayar, pasukan nasi bungkus, penghamba kuasa, penjilat, dan segala yang buruk lainnya? Tentu tidak. Cukup Allah yang memberi rezeki, selama kita tidak meminta apapun dari mereka yang mencaci, kita tak rugi apapun juga. 😊

Apakah dengan mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin kita menjadi takut dan surut?

Kawan, tegakkan badanmu, angkat dagumu, berdirilah. Katakan apa yang kau yakini. Ungkapkan apa yang menjadi pilihan hati. Tak usah ragu. Tak usah takut. Tak usah ciut. Kau tak salah apapun juga. Kau berhak dan berdaulat atas pilihanmu sendiri. 😊

Terpenting: Kau tak sendiri, Kawan. Ada kami di sini! 💪🏼

Kepada agama kita taat, kepada ulama kita hormat. Teruslah berbuat baik. Karena sekeras-kerasnya perjuangan adalah tak lelah mengerjakan kebajikan. Dan sehormat-hormatnya perlawanan adalah memeluk mereka yang membencimu dengan pemaafan dan kasih sayang. 🙏

Jakarta, 21 Februari 2019

Saya copas karena bagus👍

Jumat, 24 Agustus 2018

Kekecualian Nahdlatul Ulama

*Kekecualian Nahdlatul Ulama*

_Oleh ; Burhanuddin Muhtadi_

BAGI yang tekun mengamati perilaku politik keagamaan Nahdlatul Ulama, dinamika yang terjadi selama Muktamar ke-33 di Jombang, yang dipicu oleh kontroversi sistem pemilihan rais am melalui ahlul halli wal aqdi (AHWA), bukanlah suatu drama yang mengejutkan. Alasannya sederhana: NU adalah "drama" itu sendiri. NU tanpa drama dan dinamika bukanlah NU yang kita kenal selama ini. Itu sebabnya, selalu ada element of surprise, baik kejutan kecil maupun besar, yang mewarnai perjalanan panjang NU.

NU sulit diringkus dalam satu definisi yang konklusif. Ia juga susah dijelaskan melalui formula yang rigid, kaku, atau tunggal. Logo NU yang menggambarkan tali bumi yang longgar menyimbolkan karakter NU yang inklusif dan menampung keberagaman pemikiran dan cara pandang. Dari rahim NU, lahir banyak ulama atau pemikir yang memiliki spektrum warna-warni, dari yang liberal-pluralis hingga konservatif-islamis.

Secara politik, konsistensi NU justru terletak pada inkonsistensinya. Inilah eksotisme NU yang kadang menampilkan wajah ambigu. Saya lebih suka menyebutnya sebagai "kekecualian" atau exceptionalism. Jejak ambiguitas NU terlihat dalam banyak hal. Relasi NU dengan negara, misalnya, tidak pernah ajek. Pada masa Orde Lama, NU begitu mesra dengan Sukarno dan menganugerahinya gelar "waliyul amri dhoruri bissyaukah".

Sikap NU berubah drastis pada masa konsolidasi awal Orde Baru. Ia tampil sebagai pengkritik paling vokal kebijakan pemerintah. Nakamura (1981), dalam paper-nya yang berjudul The Radical Transformation of Nahdlatul Ulama in Indonesia, menyebut perilaku politik NU pada 1970-an melawan arus dari kecenderungan umum relasi antara organisasi kemasyarakatan dan pemerintah. Demikian pula pada akhir Orde Baru. Saat Soeharto mendekati kelompok Islam (modernis), NU di bawah Gus Dur emoh menyambutnya.

Dan NU selalu punya alasan yang dibungkus dalam doktrin keagamaan yang membenarkan manuver zigzagnya. Pengamat yang tidak paham NU gampang mengobral tuduhan bahwa NU memiliki karakter oportunistik dan terjangkit short-termism, sebuah perilaku yang memuliakan tujuan jangka pendek dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang. Tapi bukan NU jika tak punya argumen teologis untuk menolak tudingan itu. Apa yang disebut pihak lain sebagai pendekatan akomodatif dan pragmatis khas NU sebenarnya punya akar dari tradisi Sunni yang disebut political quietism (pasif) yang biasanya diramu dalam kaidah ushul fiqh: dar'u al-mafasid muqaddam 'ala jalb al-mashalih (menghindarkan keburukan jauh lebih diutamakan daripada meraih kebaikan). Tertib sosial menempati posisi penting dalam pengambilan keputusan di NU.

Karakter politik NU yang liat dan elastis ini berbeda 180 derajat dengan watak politik Islam modernis yang menekankan pada kepastian, konsistensi, dan tanpa kompromi ketika berkaitan dengan apa yang mereka pahami dari Al-Quran dan Hadis. Karena itu, sejarah Islam modernis di Indonesia selalu mudah ditebak, tidak sedinamis Islam tradisionalis. Gaya politik Masyumi, misalnya, terlalu mudah dibaca. Tradisi politik NU tidak melulu mengikuti textbook. Meminjam analogi Robin Bush (1999), NU pintar bermain dansa sehingga susah dijerat atau dipaku pada posisi tertentu. NU bebas berinteraksi dengan negara tanpa harus membuat komitmen permanen yang justru membelenggu dirinya. Inilah mekanisme pertahanan (defense mechanism) ala NU yang membuat ormas ini bertahan hidup dan berkembang menjadi jemaah Islam dengan pengikut terbesar se-Indonesia, bahkan mungkin dunia.

Bahkan, dalam metode penentuan awal dan akhir Ramadan, NU berpatokan pada metode yang "tak pasti". Berbeda dengan Muhammadiyah yang mengunggulkan kepastian melalui metode hisab, NU setia pada rukyat. Melalui hisab, Muhammadiyah sudah jauh-jauh hari mematok kapan puasa dimulai dan kapan Idul Fitri. NU sebaliknya merayakan ketidakpastian melalui rukyat. Bagi NU, peristiwa agama selalu punya dimensi. Klimaks-antiklimaks dan momentum menjadi penting dal

KPI IAI BBC Masih Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru Hinga Akhir September

Program studi (Prodi) Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Kampus Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon, masih membuka pendaftaran mahas...